Mobilitas Penduduk Antar Wilayah Di Indonesia

  • Bagikan
Mobilitas Penduduk Antar Wilayah Di Indonesia

KABARPANDEGLANG.COM – Mobilitas penduduk merupakan gejala dan fenomena sosial yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, yaitu gerak perpindahan penduduk dari satu unit geografis (wilayah) ke dalam unit geografis lainnya.

Mereka melaksanakan mobilitas untuk memperoleh sesuatu yang tidak tersedia di daerah asalnya. Alasan tersebut sangat bermacam-macam tetapi umumnya sebab alasan ekonomi. Proses pergerakan penduduk dapat dibedakan menjadi dua, adalah permanen dan nonpermanen. Individu yang melakukan mobilitas disebut migran.

Gejala mobilitas penduduk intinya bukanlah suatu proses biologis, tetapi merupakan bentuk respon manusia terhadap situasi dan kondisi yang sedang dihadapi. Misalnya, desakan ekonomi, situasi politik, kebutuhan pendidikan, gangguan keamanan, terjadinya bencana alam di tempat asal, ataupun alasan-alasan sosial lainnya.

Mobilitas penduduk merupakan gejala dan fenomena sosial yang sering dijumpai dalam kehidup Mobilitas Penduduk Antar Wilayah Di Indonesia

A. Mobilitas Penduduk Permanen

Sering kali insan pindah dari suatu wilayah ke wilayah lainnya, kemudian menetap di kawasan tujuan. Bentuk pergerakan penduduk semacam ini disebut mobilitas permanen atau migrasi. Secara umum dikenal dua macam mobilitas permanen yang terjadi antar wilayah di Indonesia yakni migrasi internasional dan migrasi internal.

Migrasi internasional merupakan proses perpindahan penduduk dari suatu negara ke negara lain. Migrasi internasional dapat dibedakan menjadi tiga, yakni imigrasi, emigrasi, dan remigrasi. Migrasi internal merupakan bentuk perpindahan penduduk dari suatu wilayah ke wilayah lainnya dalam satu negara.

Secara umum bentuk-bentuk migrasi internal yang biasa dijumpai di Kepulauan Indonesia antara lain urbanisasi, ruralisasi, dan transmigrasi.

a. Urbanisasi

Urbanisasi yaitu perpindahan penduduk dari kawasan pedesaan ke wilayah perkotaan, sedangkan orang yang melaksanakan urbanisasi dinamakan urbanisan. Sebaliknya, ruralisasi merupakan bentuk perpindahan penduduk dari kota ke desa. Urbanisasi memiliki imbas nyata dan negatif bagi desa maupun bagi kota. Berikut ini imbas faktual dan negatif urbanisasi bagi penduduku desa dan kota.

Baca Juga :  Menggambar Ragam Hias
Dampak Bagi Kota Bagi Desa
Dampak Positif
  1. Banyak tersedia tenaga kerja di kota sehingga upah tenaga kerja menjadi murah.
  2. Terjadinya perdagangan yang besar di kota alasannya penduduknya besar
  3. Pembangunan di kota lebih cepat sebab didukung sumber daya manusia yang banyak
  4. Munculnya banyak sekolah dan sekolah tinggi tinggi yang berkualitas.
  5. Industri berkembang dengan baik.
  1. Kesejahteraan penduduk desa meningkat, alasannya adalah penduduk yang berhasil di kota akan mengirimkan uang ke desa.
  2. Munculnya penduduk desa yang punya pendidikan tinggi.
  3. Adanya alih teknologi.
  4. Adanya perhatian dari pemerintah untuk membangun desa semoga pemerintah mampu sukses untuk menghambat laju urbanisasi.
Dampak Negatif
  1. Banyaknya pengangguran yang ada di kota karena kualitas urbanisan rendah
  2. Munculnya tidak kriminal.
  3. Pemukiman kumuh yang semakin banyak.
  4. Kemiskinan yang meningkat drastis di kota
  5. Kota semakin padat dan jalanan menjadi sangat macet.
  1. Desa menjadi sepi dan kekurangan tenaga kerja.
  2. Pembangunan desa menjadi terhambat.
  3. Banyaknya kemudahan dan potensi desa yang terbengkalai.
  4. Industri kecil dan industri rakyat menjadi tidak berkembang dengan baik.
  5. Fasilitas pendidikan dan kesehatan juga tidak bisa berkembang.

b. Transmigrasi

Transmigrasi yakni perpindahan penduduk dari suatu wilayah yang padat penduduknya ke area wilayah pulau lain yang penduduknya masih sedikit atau belum ada penduduknya sama sekali.

Baca Juga :  Menyajikan Kisah Fantasi

Daerah tujuan transmigrasi di Indonesia yaitu Papua, Kalimantan,Jawa dan Sumatera. Sesampainya di daerah transmigrasi para transmigran akan diberikan sebidang tanah, rumah sederhana dan perangkat lain untuk penunjang hidup di lokasi tempat tinggal yang gres.

1). Tujuan Transmigrasi

Biasanya transmigrasi ini dilakukan dari daerah yang mempunyai penduduk yang padat menuju ke kawasan yang jarang penduduknya, alasannya adalah di Indonesia biasanya transmigrasi dilakukan sebagai upaya pemerataan penduduk. Tujuan diadakannya transmigrasi antara lain sebagai berikut :

  1. Untuk meratakan persebaran penduduk di seluruh wilayah nusantara
  2. Untuk pertahanan dan keamanan / hankam lokal nasional
  3. Untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dengan menunjukkan kesempatan merubah nasib.

2). Jenis-jenis Transmigrasi

Transmigrasi dilakukan oleh beberapa atau banyak orang dengan aneka macam macam tujuan yang berbeda-beda. Karena banyak sekali faktor yang berbeda inilah maka jenis-jenis transmigrasi juga ada banyak. Berbagai jenis transmigrasi ini antara lain sebagai berikut:

  1. Transmigrasi Umum. Transmigrasi umum yaitu program transmigrasi yang disponsori dan dibaiayai secara keseluruhan oleh pihak pemerintah melalui depnakertrans (departemen tenaga kerja dan transmigrasi).
  2. Transmigrasi Spontan / Swakarsa. Transmigrasi yakni perpindahan penduduk dari tempat padat ke pulau baru sepi penduduk yang didorong oleh keinginan diri sendiri namun masih menerima bimbingan serta fasilitas penunjang dari pemerintah.
  3. Transmigrasi Bedol Desa. Transmigrasi bedol desa ialah transmigrasi yang dilakukan secara masal dan kolektif terhadap satu atau beberapa desa beserta aparatur desanya pindah ke pulau yang jarang penduduk.
Baca Juga :  Unsur Kebahasaan Teks Perundingan

B. Mobilitas Non Permanen

Pada dasarnya tidak semua penduduk yang bergerak atau mengadakan mobilitas dari suatu wilayah ke wilayah lainnya bertujuan untuk menetap di wilayah yang dikunjunginya. Ada kalanya mereka berpindah untuk sementara waktu, baik dalam durasi waktu harian (pulang-pergi), mingguan, bulanan, atau mungkin lebih lama lagi.

Proses perpindahan penduduk semacam ini dinamakan mobilitas non permanen. Berdasarkan lamanya waktu di tempat tujuan, mobilitas non permanen dibedakan menjadi dua, yakni komutasi dan sirkulasi.

  1. Komutasi merupakan bentuk mobilitas penduduk non permanen secara ulang-alik (pergi-pulang) tanpa menginap di kawasan yang dituju, atau dengan kata lain waktu yang dibutuhkannya kurang dari 24 jam. Orang yang melaksanakan proses komutasi dinamakan komuter atau penglaju. Sebagai acuan seseorang yang bekerja di Jakarta, sedangkan kawasan tinggalnya di kota Bogor atau Bekasi.
  2. Sirkulasi yaitu jenis mobilitas penduduk non permanen tetapi sempat menginap di tempat tujuan atau mobilitas non permanen musiman. Orang yang melaksanakan sirkulasi dinamakan sirkuler. Banyak penduduk desa yang bekerja di kota tidak kembali pada hari yang sama tetapi beberapa hari atau beberapa ahad lalu.

Terima kasih telah membaca artikel di website kabarpandeglang.com, semoga bisa memberikan informasi yang bermanfaat bagi kamu dan bisa dijadikan referensi. Artikel ini telah dimuat pada kategori pendididkan https://kabarpandeglang.com/topik/pendidikan/, Jangan lupa share ya jika artikelnya bermanfaat. Salam admin ganteng..!!

  • Bagikan